Pengangguran (Dampak & Solusinya)

1.  Apa yang dimaksud dengan pengangguran ?

1). Yang dimaksud dengan pengangguran dapat ditinjau dari beberapa sudut padangan yakni sebagai berikut :

(1)  Pada keadaan yang ideal, diharapkan besarnya kesempatan kerjasama dengan besarnya angkatan kerja, sehingga semua angkatan kerja akan mendapatkan pekerjaan.

Pada kenyataannya keadaan tersebut sulit untuk dicapai. Umumnya kesempatan kerja lebih kecil dari pada angkatan kerja, sehingga tidak semua angkatan kerja akan mendapatkan pekerjaan, maka timbullah penggangguran.

(2)  Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau bekerja secara tidak optimal. Berdasarkan pengertian tersebut, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam.

(3)  Menurut Ida Bagoes Mantra, pengangguran adalah bagian dari angkatan kerja yang sekarang ini tidak bekerja dan sedang aktif mencari pekerjaan. Konsep ini sering diartikan sebagai keadaan pengangguran terbuka.

(4)  Menurut Dumairy, pengangguran adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan lengkap. Lengkapnya orang yang tidak bekerja dan masih atau sedang mencari pekerjaan.

2)  Bentuk-bentuk Pengangguran antara lain :

1.   Pengangguran Terbuka, yaitu pengangguran baik sukarela ( mereka yang tidak mau bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik ) maupun secara terpaksa ( meraka yang mau bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan).

2.   Setengah menganggur yaitu mereka yang bekerja lamanya ( hari, minggu, musiman ) kurang dari yang mereka biasa kerjakan.

3.   Tampaknya bekerja tetapi tidak bekerja secara penuh, yaitu mereka yang tidak digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah pengangguran.

4.   Tenaga kerja yang lemah, yaitu mereka yang mungkin bekerja full time, tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan.

5.   Tenaga kerja yang produktif, yaitu mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi karena sumber daya penolong kurang memadai maka mereka tidak bisa menghasilkan sesuatu dengan baik.

3)  Jenis-jenis Pengangguran antara lain :

1.   Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar pekerja dengan pembuka pelamar pekerjaan.

2.   Pengangguran Struktural adalah keadaan dimana penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh pembuka lapangan pekerjaan.

3.   Pengangguran Musiman adalah keadaan dimana adanya fluktuasi kegiatan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seorang harus menganggur.

4.   Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur karena imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran pekerjaan.

2.  Apakah dampak ekonomi dengan terjadinya pengangguran ?

Pengangguran berdampak luas terhadap kehidupan ekonomi, sosial dan politik yang pada gilirannya akan memukul balik kestabilan makro-ekonomi yang telah dicapai dengan susah payah.

Dampak negatip dari masalah pengangguran seperti beragamnya tindakan kriminal, anak jalanan, pengemis, prostitusi, perdagangan anak, aborsi, pengamen dan sebagainya sudah menjadi patologi sosial atau kuman penyakit sosial yang menyebar bagaikan virus kanker yang sulit diberantas. Penyakit sosial ini sangat berbahaya dan menghasilkan korban-korban sosial yang tidak ternilai. Menurunnya kualitas sumber daya manusia, tidak dihargainya martabat dan harga diri manusia yang merupakan korban sosial dari penyakit sosial ini sudah sangat merusak sendi-sendi kehidupan kemanusiaan yang beradab. Karena itu persoalah pengangguran ini harus secepatnya dipecahkan dan dicarikan jalan keluarnya yang terbaik.

Dampak ekonomi dengan terjadinya pengangguran antara lain ; adanya beban anggaran yang besar dari keuangan negara, dan dapat menyebabkan ketidak-stabilan, ketidak-amanan, dan ketidak-nyamanan dalam berusaha, sehingga unit-unit bisnis tidak maksimal dalam menjalankan usahanya, karena adanya gangguan dari orang-orang yang lapar akibat pengangguran yang tinggi atau tidak mempunyai pekerjaan yang layak.

3.  Bagaimana mengatasi pengangguran di daerah perkotaan dan di perdesaan ?

1)  Untuk menghilangkan pengangguran dalam situasi kehidupan ekonomi Bangsa yang sedang membangun ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Tetapi upaya mengurangi pengangguran bukanlah hal yang mustahil. Cara yang realistis dalam jangka pendek mengurangi pengangguran adalah memberdayakan sektor informal, padat karya dan lain lain, di samping strategi jangka panjang seperti pemerataan wilayah pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan desentralisasi.

2)  Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Faisal Basri, ahli ekonomi dari Universitas Indonesia dengan mengacu pada rumus standar yang sudah lama dijadikan acuan untuk menghitung jumlah pengangguran terbuka (open unemployment), yakni setiap pertumbuhan ekonomi 1% akan menghasilkan penyerapan tenaga kerja 400.000 orang. Hal itu berarti, jika tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4 %, berarti daya serapnya hanya 2.160.000 pekerja baru. Sementara itu, tambahan pekerja baru setiap tahunnya mencapai 3 juta orang, sehingga selama periode 2002-2006, jumlah penganggur di tahun 2006 adalah Jumlah penganggur sebelumnya ditambah tambahan pekerja baru yang belum terserap yakni ; 15.000.000 orang + ( 3.000.000 orang – 2.160.000 orang ) = 15.840.000 orang. Selanjutnya menurut Boediono (2008), jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada tahun 2007 adalah 22,7 juta orang.  Arthur Okun (1962) memperkenalkan Okun’s Law menyatakan hubungan yang negatif antara tingkat pengangguran dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Jika tingkat pertumbuhan ekonomi naik 1%, maka akan dapat menurunkan tingkat pengangguran 0,5%, atau sebaliknya jika terjadi kenaikan tingkat pengangguran sebesar 1% akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 2%.

3)  Meningkatkan budaya kerja (tidak memilih-milih jenis perkerjaan, termasuk bekerja di sektor informal di samping bekerja di sektor formal), meningkatkan semangat dan gairah kerja, peningkatan pendekatan kepada Tuhan Y.M.E. selaku pemberi Rezeki, peningkatan moral atau akhlaq, sehingga terhindar dari sikap korupsi yang menyebabkan kebangkuratan perusahaan.

4)  Peningkatan bimbingan kewirausahaan, peningkatan bimbingan teknis pada berbagai sektor lapangan pekerjaan, peningkatan bimbingan teknik sektor usaha mikro dan koperasi disektor pertanian, sektor perikanan, sektor peternakan, sektor perkreditan rakyat, peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan baik formal maupun non formal,  bantuan atau pinjaman lunak kredit permodalan, dan lain-lain.

4.  Menurut teori Keynes, kapan keadaan suatu negara tidak akan terjadi pengangguran?

1)  Dalam Teori Keynes menyatakan bahwa suatu negara tidak akan terjadi pengangguran pada saat perekonomian dalam keadaan sejahtera atau makmur yang ditunjukkan dalam gerak gelombang conjunctur berada pada posisi Boom atau prosperity, keadaan ini penggunaan tenaga kerja secara penuh (full employment). Penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) adalah keadaan yang jarang terjadi, dan hal itu disebabkan karena kekurangan permintaan agregat yang wujud dalam perekonomian.

2)  Analisis Keynes menunjukkan tentang pentingnya peranan dari pengeluaran kepada barang dan jasa yang diproduksi oleh sektor perusahaan di dalam menentukan kegiatan ekonomi. Ini berarti analisis Keynes lebih banyak memperhatikan permintaan yaitu menganalisis mengenai peranan dari permintaan golongan masyarakat di dalam menentukan tingkat kegiatan ekonomi yang akan dicapai oleh suatu perekonomian.

3)  Pada hakikatnya analisis Keynes berpendapat bahwa tingkat kegiatan ekonomi negara ditentukan besarnya permintaan efektif yaitu permintaan yang disertai oleh kemampuan untuk membayar barang dan jasa yang diminta yang diwujudkan dalam perekonomian. Bertambah besar permintaan efektif yang terwujud dalam perekonomian, bertambah pula tingkat produksi yang akan dicapai oleh sektor perusahaan. Keadaan ini menyebabkan pertambahan dalam tingkat kegiatan ekonomi dan penggunaan tenaga kerja dan faktor-faktor produksi.

4)  Dalam pandangan Keynes terhadap besarnya investasi, dia beranggapan bahwa tingkat bunga bukan merupakan satu-satunya komponen utama dalam menentukan besarnya investasi. Besarnya investasi juga ditentukan oleh faktor lain seperti keadaan ekonomi pada masa kini, ramalan perkembangan di masa depan, dan tingkat penggunaan dan perkembangan teknologi. Jadi meskipun tingkat bunga tinggi, namun apabila keadaan perekonomian sekarang baik untuk dilakukan investasi dan prospek ke depannya sangat baik, maka kegiatan investasi tetap akan dilakukan.

5)  Hubungan antara tingkat upah dengan penggunaan tenaga kerja oleh pengusaha. Para ahli ekonomi klasik beranggapan bahwa dengan asumsi ceteris paribus, penurunan tingkat upah tidak akan mempengaruhi biaya produksi marjinal (biaya untuk memproduksi tambahan produk baru). Akan tetapi menurut Keynes, penurunan tingkat upah akan menurunkan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli masyarakat akan menurunkan tingkat pengeluaran dan berakibat pada turunnya tingkat harga barang dan jasa. Turunnya tingkat permintaan terhadap barang dan jasa akibat lemahnya daya beli masyarakat akan berakibat pada penurunan kapasitas produksi yang artinya pengurangan jumlah tenaga kerja. Dengan demikian penurunan tingkat upah tidak dapat menciptakan penggunaan tenaga kerja penuh (Full Employment).

6)  Menurut Keynes, faktor penentu kegiatan ekonomi suatu negara adalah permintaan efektif. Permintaan efektif adalah permintaan yang disertai kemampuan untuk membayar barang-barang dan jasa-jasa dalam wujud perekonomian.

7)  Pengeluaran konsumsi yang dilakukan oleh sektor rumah tangga dalam perekonomian tergantung dari besarnya pendapatan. Perbandingan antara besarnya konsumsi dengan jumlah pendapatan disebut kecondongan mengkonsumsi ( MPC = Marginal Propensity to Consume). Semakin besar MPC semakin besar pula pendapatan yang digunakan untuk kegiatan konsumsi dan sebaliknya.

8)  Pada kondisi negara yang MPC-nya rendah, akan menyebabkan selisih antara produksi nasional (dengan asumsi full employment) dengan tingkat konsumsi (penggunaan produk) menjadi semakin besar. Agar mencapai penggunaan tenaga kerja penuh, para pengusaha perlu melakukan investasi sebesar selisih antara tingkat konsumsi dan produksi tersebut. Jika besarnya investasi tidak mencapai jumlah tersebut, maka akan terjadi pengangguran. Karena kondisi tersebut dalam kondisi nyata tidak selalu tercapai, maka pengangguran akan selalu ada.

Tentang muhammadalfani

Dosen FE. Uniska Muhammad Arsyad Al Banjary Banjarmasin
Tulisan ini dipublikasikan di EKONOMI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s