Pengukuran Pendapatan Nasional

1. Dalam pengukuran (perhitungan) pendapatan nasional ada dua, yaitu
melalui harga konstan dan menggunakan harga yang sedang berlaku. Pada
kondisi yang bagaimana kedua harga tersebut dipakai ?
2. Setujukah saudara atas pendapat yang menyatakan bahwa kemakmuran
suatu bangsa diukur dengan pendapatan perkapita ? Anda tidak setuju
sebutkan alasannya ?
Jawaban :
1. Dalam pengukuran (perhitungan) pendapatan nasional ada dua, yaitu
melalui harga konstan dan menggunakan harga yang sedang berlaku. Pada
kondisi yang bagaimana kedua harga tersebut dipakai ?
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi dalam
pengukuran pendapatan nasional di suatu negara dalam suatu periode tertentu
adalah data Produk Domestik Bruto (PDB), baik atas dasar harga berlaku
maupun atas dasar harga konstan. PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai
tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau
merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit
ekonomi.
PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa
yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, PDB atas
dasar harga berlaku dapat digunakan pada kondisi untuk melihat pergeseran dan
struktur ekonomi.
Sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan
jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun
tertentu sebagai dasar. PDB atas dasar harga konstan digunakan pada kondisi
untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
2. Setujukah saudara atas pendapat yang menyatakan bahwa kemakmuran
suatu bangsa diukur dengan pendapatan perkapita ? Anda tidak setuju
sebutkan alasannya ?
Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemakmuran suatu bangsa diukur
dengan pendapatan perkapita (Income per capita di singkat I/C).

Saya tidak setuju dengan pendapat di atas, karena ukuran pendapatan perkapita
tidak menunjukkan tingkat kemakmuran yang sebenarnya. Pendapatan perkapita

dihitung dengan formula sebagai berikut :

Pendapatan perkapita   =    I/C   =    ( PDB : Jumlah Penduduk )

Misalnya ; I/C negara Brunai Darussalam > I/C negara Indonesia. Berdasarkan
penyataan di atas, tampaknya rakyat Brunai Darussalam lebih makmur
dibandingkan dengan rakyat Indonesia. Sehingga di Negara Brunai seolah-olah
tidak terdapat penduduk miskin. Namun kenyataan rakyat Brunai tidak
menunjukkan kemakmuran sebenarnya, masih banyak terdapat rakyat yang
miskin. Hal ini disebabkan perhitungan PDB merupakan keseluruhan
pendapatan penduduk (termasuk pendapatan Pribadi Raja Brunai
Darussalam Khasanul Bolkiah  yang kaya raya) dijumlahkan dengan seluruh rakyat dibagi
dengan jumlah penduduk yang jumlahnya sedikit, jadi seolah-olah rakyat Brunai
lebih makmur dibandingkan dengan rakyat Indonesia.
Untuk mengukur kemakmuran suatu negara, saya lebih cenderung melihat
seberapa jauh pemerataan pembangunan dan pemerataan hasil-hasilnya pada
suatu daerah maupun kepada penduduknya yang terjadi di suatu negara, sebagai
akibat adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu konsep
pemerataan ini akan mendorong kesejahteraan ekonomi (economic welfare)
yang justru jika pemerataan pendapatan terjadi akan lebih cepat mendorong
pertumbuhan ekonomi.

About these ads

Tentang muhammadalfani

Dosen FE. Uniska Muhammad Arsyad Al Banjary Banjarmasin
Tulisan ini dipublikasikan di EKONOMI. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s